يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ
تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا
قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا
مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا
تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu:
‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’,
Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.Tafsir Ayat
Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa ayat ini turun pada hari Jum’at berkaitan dengan berlapang-lapang dalam majelis. Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati Fulan, yang telah melapangkan tempat duduknya untuk saudaranya.” Subhanallah!
Imam Qatadah –rahimahullah- ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Sesungguhnya ilmu akan memberikan kemuliaan kepada pemiliknya, dan ilmu memiliki hak atas pemiliknya, dan menempatkan ilmu pada haknya akan memberikan keutamaan kepada kalian wahai orang yang berilmu, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memerikan sesuatu itu keutamaannya.”
Imam Ath-Thabari –rahimahullah- ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian, karena ketaatan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu ketaatan mereka dalam berlapang-lapanglah dalam majelis maka merekapun melaksanakannya, dan apabila dikatakan kepada berdirilah, maka merekapun mengerjakannya. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala juga akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dari kalangan orang-orang mukmin di atas orang-orang beriman yang bodoh, karena keutamaan ilmu mereka, dengan syarat mereka mengerjakan apa saja yang diperintahkan kepada mereka.”
Keutamaan Orang Yang Berilmu dan Penuntut Ilmu
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang mencari satu jalan untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Surga.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Tidak sepatutunya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memeperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali.” (QS. At-Taubah: 122)
Imam Muslim pernah mengatakan kepada Imam Bukhari: “Demi Allah tidak ada di dunia ini yang lebih pandai tentang ilmu hadist dari engkau.” (Tarikh Bukhari, dalam Mukadimah Fathul Bari)
Imam Syafi’i berkomentar tentang Imam Ahmad: “Saya pergi dari kota Baghdad dan tidak saya tinggalkan di sana orang yang paling alim dalam bidang fiqih, yang paling wara’ dalam agamanya dan paling berilmu selain Imam Ahmad.” (Thobaqatus Syafi’I, As-Subki: hal.91)
Celaan Terhadap Orang Yang Berkata Tanpa Ilmu
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya: “Dan janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang-nya, sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semuanya itu akan di tanya” (QS. Al-Isra’: 36)
Dan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barang siapa berbicara tentang Al-Qur’an dengan akalnya atau tidak dengan ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka.” (Jami’ As-Shahih Sunan Tirmidzi jilid 5 hal.183 no. 2950)
Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Barang siapa mengamalkan sesuatu amal yang tidak ada perintah kami atasnya, maka amalnya itu tertolak.” (HR. Muslim)
Perkataan Salafus Shalih Tentang Keutamaan Menuntut Ilmu
- Abu Darda berkata: “Kamu tidak akan menjadi orang yang bertaqwa sehingga kamu berilmu, dan kamu tidak menjadi orang yang berilmu secara baik sehingga kamu mau beramal.”
- Imam Hasan Al-Basri mengatakan: “Tafsir QS. Al-Baqarah ayat 201; ‘Ya Allah, berikanlah kami kebaikan di dunia (ialah ilmu dan ibadah) dan kebaikan di akhirat (ialah surga)’.”
- Imam Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hen-daklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya maka hendaklah dengan ilmu.”
- Imam Malik berkata: “Ilmu itu tidak diambil dari empat golongan, tetapi diambil dari selainya. Tidak diambil dari orang bodoh, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, yang mengajak berbuat bid’ah dan pendusta sekalipun tidak sampai tertuduh mendustakan hadist-hadist Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga tidak diambil dari orang yang dihormati, orang shalih, dan ahli ibadah yang mereka itu tidak memahami permasalahanya.”
- Imam Muhammad Ibnu Sirin berkata: “Sesungguhnya ilmu itu dien, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil dienmu.”
“Waspadalah terhadap cobaan orang berilmu yang buruk (ibadahnya) dan ahli ibadah yang bodoh.”
- Imam Asy-Syafi’i memberi nasihat kepada murid-muridnya: “Siapa yang mengambil fiqih dari kitab saja, maka ia menghilangkan banyak hukum.”
- Abdullah bin Al-Mu’tamir berkata: “Jika engkau ingin mengerti kesalahan gurumu, maka duduklah engkau untuk belajar kepada orang lain.”
- Riwayat Ibnu Wahab yang diterima dari Sufyan mengatakan: “Tidak akan tegak ilmu itu kecuali dengan perbuatan, juga ilmu dan perbuatan tidak akan ada artinya kecuali dengan niat yang baik. Juga ilmu, perbuatan dan niat yang baik tidak akan ada artinya kecuali bila sesuai dengan sunnah-sunnah.”
- Ibrahim Al-Hamadhi berkta: “Tidaklah dikatakan seorang itu berilmu, sekalipun orang itu banyak ilmunya. Adapun yang dikatakan Allah orang itu berilmu adalah orang-orang yang mengikuti ilmu dan mengamalkanya, dan menetap dalam perkara As-Sunah, sekalipun jumlah ilmu-ilmu dari orang-orang tersebut hanya sedikit.”
- Bahwa ilmu dien adalah warisan para Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, warisan yang lebih mulia dan berharga dari segala warisannya para Nabi. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda: “Keutamaan sesorang ‘alim (berilmu) atas seorang ‘abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya (warisan ilmu) maka dia telah mengambil keuntungan yang banyak.” (HR. Tirmidzi).
- Ilmu itu tetap akan kekal sekalipun pemiliknya telah mati, tetapi harta yang jadi rebutan manusia itu pasti akan sirna. Setiap kita pasti kenal Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- gudangnya periwayatan hadits, sehingga beliau menjadi sasaran bidik kejahatan kaum Syi’ah dengan tuduhan-tuduhan keji yang dilancarkannya terhadap diri beliau, dalam rangka menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
“Jika manusia mati terputuslah amalnya kecuali tiga: shadaqah jariyah, atau ilmu yang dia amalkan atau anak shalih yang mendoakannya.”
- Ilmu, sebanyak apapun tak menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan, tak perlu gedung yang tinggi dan besar untuk meletakkannya. Cukup disimpan dalam dada dan kepalanya, bahkan ilmu itu yang akan menjaga pemiliknya sehingga memberi rasa nyaman dan aman, lain halnya dengan harta yang semakin bertumpuk, semakin susah pula untuk mencari tempat menyimpannya, belum lagi harus menjaganya dengan susah payah bahkan bisa menggelisahkan pemiliknya.
- Ilmu, bisa menghantarkan pemiliknya menjadi saksi atas kebenaran dan keesaan Allah. Adakah yang lebih tinggi dari tingkatan ini? Inilah firman Allah Ta’ala:
Sedang pemilik harta? Harta sama sekali takkan menghantarkan pemiliknya sampai ke derajat sana.
Reference :
- Tafsir Ath-Thabari, Imam Ath-Thabari.
- Tafisr Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir.
- Bulletin An-Nuur, Yayasan Ash-Shofwah-Jakarta.
- Dan lain-lain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar