Menurut
riset, sebagian besar waktu manusia tersita dengan persoalan harta.
Sejak bangun tidur sampai menjelang tidur, manusia selalu mempersoalkan
harta. Bahkan, mimpinya pun kerap dihiasi persoalan harta. Tak heran,
hatinya gelisah manakala ia tidak berharta dan berlaku angkuh manakala
ia berpunya. sebagaimana yang pernah saya tulis sebelumnya.
Saya hanya ingin berkisah kepada Anda.
Abu Manshur
as-Samarqandi berkata, ‘Imam yang zuhud, Abu Abdullah, ingin meyakinkan
dirinya tentang sebab-sebab mendapat rizki. Maka, ia pun mendaki gunung
dan masuk ke sebuah gua. Ia bergumam sendiri, ‘Wahai Tuhanku,
perlihatkanlah kepadaku, bagaimana Engkau memberikan rizki kepadaku’.
Tiba-tiba hujan lebat mengguyur dan menyebabkan jalan-jalan di gunung
tidak terlihat. Namun, orang-orang lain yang ada di sekitar gunung itu
pun menemukan gua tersebut. Mereka masuk ke gua itu dan melihat Abu
Abdullah sedang meringkuk di dalamnya.
Mereka
mengajaknya berbicara, namun ia tidak menyahut sepatah kata pun,
sepertinya ia tidak menghiraukan pertanyaan mereka. Mereka berkata,
‘Mungkin orang ini kedinginan, sehingga ia tidak bisa berbicara’.
Kemudian, mereka menyalakan api di mulut gua hingga hawa panasnya
merasuk ke dalam gua. Mereka mengajak Abu Abdullah berbicara, namun
tetap saja ia diam seribu bahasa. Mereka berkata lagi, ‘Mungkin orang
ini telah lama tidak makan apapun. Karena itu, ia butuh makanan ringan
yang panas, sehingga pencernaannya kembali normal’.
Lalu mereka
memasakkan sesuatu untuk Abu Abdullah dan menyuguhkan makanan itu
kepadanya. Namun, ia tetap tidak bergeming. Mereka berkata lagi,
‘Mungkin gigi-giginya telah rapat’. Lalu, dua orang dari mereka berdiri
dan mengambil dua buah pisau untuk membuka mulutnya dan memasukkan
makanan ke dalamnya.
Tiba-tiba,
Abu Abdullah tertawa. Mereka pun heran dan berkata, ‘Kamu gila ya?’. Ia
menjawab, ‘Tidak, saya bukan orang gila. Hanya saja, saya sedang
membuktikan bahwa Tuhanku akan memberikan rizki kepadaku, ternyata
benar. Tuhan telah memberikan rizki kepadaku dan akan memberikan rizki
kepada semua hamba-Nya, di manapun mereka berada’.
Hatim al-Asham rahimahullah
pernah ditanya, ‘Apa yang membuatmu kukuh dengan tawakal?’. Ia
menjawab, ‘Ada empat hal yang membuatku selalu tawakal. Pertama, saya
mengetahui bahwa rizkiku tidak akan dimakan orang lain, karena itu
jiwaku tenang. Kedua, saya mengetahui bahwa pekerjaanku tidak akan dapat
dilakukan oleh orang lain, karena itu saya sibuk dengan pekerjaanku.
Ketiga, saya mengetahui bahwa kematian datang secara tiba-tiba, karena
itu saya harus menyiapkan bekalnya. Keempat, saya mengetahui bahwa saya
tidak akan luput dari pengawasan Allah di mana pun saya berada, karena
itu saya merasa malu kepada-Nya’.
Ibnu Athaillah as-Sukandari dalam al-Hikam
berkata, ‘Salah satu tanda akan suksesnya seseorang dalam akhir
perjuangannya adalah menyerah pada Allah sejak awal perjuangannya’.
Anda masih tidak percaya bahwa Allah adalah ar-Razaq, Sang Pemberi Rizki? Lihatlah bagian atas uang dollar. Di situ tertulis, ‘In God We Trust’,
yang artinya ‘Hanya Kepada Tuhan Kita Percaya’. Jadi, buat pemburu
dollar (harta), percayalah bahwa Allah yang mengatur rizki. Biarlah
Allah yang mengatur hidup kita. Jangan kita mengatur Diri-Nya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar