Syekh Abul Hasan Syadzily
Beliau r.a. berkata: Ilmu-ilmu ini adalah benteng-benteng dan penjelasan terhadap posisi-posisi jiwa, bersitan-bersitan, tipu dayanya, dan kehendaknya, serta memutus hati dari memperhatikan, bersantai, dan bertenteraman (dengan ego) di atas jalan tauhid dan syariat dengan kemurnian cinta dan keikhlasan agama dengan sunah.
Mereka mempunyai beberapa tambahan dalam maqam-maqam keyakinan dari zuhud, sabar, harap, takut, tawakal, ridha, dan lain-Iainnya yang termasuk maqam-maqam yakin. Inilah jalan orang-orang yang menuju (kepada Allah) dalam metode interaksi.
Beliau r.a. berkata: Ilmu-ilmu ini adalah benteng-benteng dan penjelasan terhadap posisi-posisi jiwa, bersitan-bersitan, tipu dayanya, dan kehendaknya, serta memutus hati dari memperhatikan, bersantai, dan bertenteraman (dengan ego) di atas jalan tauhid dan syariat dengan kemurnian cinta dan keikhlasan agama dengan sunah.
Mereka mempunyai beberapa tambahan dalam maqam-maqam keyakinan dari zuhud, sabar, harap, takut, tawakal, ridha, dan lain-Iainnya yang termasuk maqam-maqam yakin. Inilah jalan orang-orang yang menuju (kepada Allah) dalam metode interaksi.
Adapun
ahlullah dan hamba-hamba istimewa-Nya, maka mereka adalah kaum yang
ditarik Allah dari kejahatan dan pangkal-pangkalnya. Dia pekerjakan
mereka kepada kebaikan dan cabang-cabangnya. Dia limpahkan kecintaan
khalwat pada mereka, dan Dia buka jalan munajat bagi mereka. Sehingga
Dia mengenalkan diri-Nya lantas mereka mengenal-Nya. Dia menumbuhkan
cinta pada mereka, maka mereka mencintai-Nya. Dan Dia Yang Menunjukkan
jalan, lalu mereka menempuhnya. Jadi, mereka senantiasa dengan-Nya serta
untuk-Nya. Dia tidak membiarkan mereka untuk selain-Nya dan tidak
mendinding mereka dari-Nya. Bahkan, mereka terdinding dengan-Nya dari
selain-Nya, tidak mengenal selain-Nya, dan tidak cinta kecuali
kepada-Nya. “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk
dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (QS Az-Zumar 39;18).
Hakikat Jalan (Tasawuf)
Jalan ini tidak ditempuh dengan kerahiban, makan gandum, kulit padi, maupun sisa produksi. Akan tetapi, dengan kesabaran dan keyakinan dalam petunjuk. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran) dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami, Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” (QS. As-Sajadah [32]: 24-25)
Hakikat Jalan (Tasawuf)
Jalan ini tidak ditempuh dengan kerahiban, makan gandum, kulit padi, maupun sisa produksi. Akan tetapi, dengan kesabaran dan keyakinan dalam petunjuk. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar (dalam menegakkan kebenaran) dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami, Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” (QS. As-Sajadah [32]: 24-25)
Dan,
pelabuhan ini sungguh mulia, padanya lima perkara: sabar, takwa, wara’,
yakin, dan makrifat. Sabar apabila disakiti, takwa dengan tidak
menyakiti, wara’ terhadap yang keluar masuk dari sini —dan dia menunjuk
mulutnya— dan pada hati, bahwa tidak menerobos ke dalamnya selain apa
yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, juga keyakinan dalam rezeki, dan
makrifat terhadap al-Haq
yang tidak akan hina seseorang bersamanya kepada siapa pun dari
makhluk. “Bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu
melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati
terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap
apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS, An-Nahl [16]:
127-128).
Hakikat orang yang berakal
Beliau r.a. berkata: Orang yang berakal adalah orang yang mengerti tentang Allah, apa-apa yang Dia kehendaki atasnya dan apa yang berasal darinya secara syariat. Dan, yang Allah inginkan dari hamba itu ada empat: adakalanya nikmat atau cobaan, ketaatan atau kemaksiatan.
Apabila kamu berada dengan nikmat, maka Allah menuntut syukur darimu secara syariat. Apabila Allah menghendaki cobaan bagimu, maka Dia menuntut kesabaran darimu secara syariat. Jika menghendaki ketaatan darimu, maka Allah menuntut darimu kesaksian terhadap anugerah dan memandang taufik secara syariat. Dan, jika menghendaki kemaksiatan darimu, maka Allah menuntut darimu tobat dan kembali kepada-Nya dengan penyesalan secara syariat.
Hakikat orang yang berakal
Beliau r.a. berkata: Orang yang berakal adalah orang yang mengerti tentang Allah, apa-apa yang Dia kehendaki atasnya dan apa yang berasal darinya secara syariat. Dan, yang Allah inginkan dari hamba itu ada empat: adakalanya nikmat atau cobaan, ketaatan atau kemaksiatan.
Apabila kamu berada dengan nikmat, maka Allah menuntut syukur darimu secara syariat. Apabila Allah menghendaki cobaan bagimu, maka Dia menuntut kesabaran darimu secara syariat. Jika menghendaki ketaatan darimu, maka Allah menuntut darimu kesaksian terhadap anugerah dan memandang taufik secara syariat. Dan, jika menghendaki kemaksiatan darimu, maka Allah menuntut darimu tobat dan kembali kepada-Nya dengan penyesalan secara syariat.
Siapa yang mengerti empat perkara ini dari Allah dan
melakukan apa yang Allah cintai darinya secara syariat, maka dia adalah
hamba yang sebenar-benarnya. Dalilnya adalah sabda Nabi SAW, “Siapa yang
apabila diberi lantas ia bersyukur, jika ditimpa cobaan dia bersabar,
menzalimi lalu meminta ampun, dan dizalimi lalu memaafkan,” Kemudian,
beliau berdiam. Para sahabat bertanya, “Apa, wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Merekalah yang mendapatkan keamanan dan mereka adalah
orang-orang yang mendapat petunjuk.” Demikian juga dalam ungkapan
sebagian mereka, “Tidak pernah gampang hal itu kecuali bagi seorang
hamba yang mencinta. Dia tidak mencintai kecuali karena Allah semata
atau mencintai apa yang Allah perintahkan sebagai syariat agamanya.”
Wassalam.
Beliau r.a. berkata: Terdapat di sebagian khabar,
“Siapa yang taat kepada-Ku dalam segala sesuatu dengan meninggalkan
segala sesuatu, niscaya Aku memperkenankannya dalam setiap sesuatu;
bahwa Aku ber-tajalli kepadanya pada setiap sesuatu hingga dia
melihat-Ku seakan-akan Aku adalah segalanya.” Inilah ketaatan yang
terdapat pada hak awam orang-orang yang saleh.
Adapun ketaatan
pada hak khawdsh dari kalangan shiddiqin adalah dengan ‘keputusasaan’
dari mereka dengan menghadap kepada segala sesuatu karena bagusnya
kehendak Tuhan mereka pada setiap sesuatu. Maka, seolah-olah Dia
berkata, “Siapa yang taat kepada-Ku atas segala sesuatu dengan menghadap
pada segala sesuatu karena bagusnya kehendak-Ku pada setiap sesuatu,
bahwa Aku ber-tajalli kepadanya pada setiap sesuatu hingga dia
melihat-Ku seakan-akan Aku lebih dekat kepadanya dari segala sesuatu.http://www.sufinews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar